Jun 222014
 

Mengapa oh mengapa?
Apakah anda mulai merasa kesulitan mengendalikan perilaku anak anda?
Apakah anda dan pasangan sering nggak sepaham dalam mendidik anak anak?
Apakah anak anda sering merengek dan maksa untuk dituruti kemauannya?
Apakah anak anda sering berantem satu sama lain?
Apakah anda kesulitan karena anak anda selalu nonton tv atau maen ps?
Jika anda menjawab ya dari salah satu pertanyaan diatas, maka ada baiknya baca tips tips dibawah ini. Berikut ini adalah tips tips dari buku Ayah Edy ini.

1. Raja yang Tak Pernah Salah

Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam.

Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah.

Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar. Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi peringatan sanksi, atau hukuman adalah orang lain yang tidak melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan.

Kita sebagai orang tua baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan pada kita. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si anak yang baru berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya menangis? Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajarilah ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi; katakanlah padanya (sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit): ” Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi.”

2. Berbohong Kecil

Awalnya anak-anak kita adalah anak yang selalu mendengarkan kata-kata orang tuanya, Mengapa? KArena mereka percaya sepenuhnya pada orang tuanya. Namun, ketika anak beranjak besar, ia sudah tidak menuruti perkataan atau permintaan kita? Apa yang terjadi? Apakah anak kita sudah tidak percaya lagi dengan perkataan atau ucapan-ucapan kita lagi?

Tanpa sadar kita sebagai orang tua setiap hari sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak berkeliling perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengalihkan perhatian si kecil ke tempat lain, setelah itu kita buru-buru pergi? Atau yang ekstrem kita mengatakan, “Papa/Mama hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya, sebentaaar saja ya, Sayang.” Tapi ternyata, kita pulang malam. Contah lain yang sering kita lakukan ketika kita sedang menyuapi makan anak kita, “Kalo maemnya susah, nanti Papa?Mama tidak ajak jalan-jalan loh.” Padahal secara logika antara jalan-jalan dan cara/pola makan anak, tidak ada hubungannya sama sekali.

Dari beberapa contah di atas, jika kita berbohong ringan atau sering kita istilahkan “bohong kecil”, dampaknya ternyata besar. Anak tidak percaya lagi dengan kita sebagai orang tua. Anak tidak dapat membedakan pernyataan kita yang bisa dipercaya atau tidak. akibat lebih lanjut, anak menganggap semua yang diucapkan oleh orang tuanya itu selalu bohong, anak mulai tidak menuruti segala perkataan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan penuh kasih dan pengertian:

“Sayang, Papa/Mama mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo Papa/Mama ke kebun binatang, kamu bisa ikut.”

Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita harus bersabar dan lakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami keadaan mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut. Sebaliknya bila pergi ke tempat selain kantor, anak pasti diajak orang tuanya. Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu. Anak akan mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan.

3. Banyak Mengancam

“Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh dan nggak ada yang mau menolong!”

“Jangan ganggu adik,nanti Mama/Papa marah!”

Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan “….nanti Mama/Papa marah!”

Seorang anak adalah makhluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola orang tuanya; dia tidak hanya bisa mengetahui pola orang tuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya. Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata,namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan

Apa yang sebaiknya kita lakukan? .
Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. tatap matanya dengan lembut, namum perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengan tindakan yang mereka lakukan. Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, “Sayang, Papa/Mama mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu. Papa/Mama akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan ancaman atau teriaka-teriakan. Atau kita bisa juga menyatakan suatu pernyataan yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal “Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan in ke adikmu,Papa/Mama akan menyimpan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain. MAinan akan Papa/Mama keluarkan, bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu. Tepati pernyataan kita dengan tindakan.

4. Bicara Tidak Tepat Sasaran

Pernahkah kita menghardik anak dengan kalimat seperti, “Papa/Mama tidak suka bila kamu begini/begitu!” atau “Papa/Mama tidak mau kamu berbuat seperti itu lagi!” Namun kita lupa menjelaskan secara rinci dan dengan baik, hal2 atau tindakan apa saja yang kita inginkan. Anak tidak pernah tahu apa yang diinginkan atai dibutuhkan oleh orang tuanya dalam hal berperilaku. Akibatnya anak terus mencoba sesuatu yang baru. Dari sekian banyak percobaan yang dilakukannya, ternyata selalu dikatakan salah oleh orang tuanya. Hal ini mengakibatkan mereka berbalik untuk dengan sengaja melakukan hal2 yang tidak disukai orang tuanya. Tujuannya untuk mrmbuat orang tuanya kesal sebagia bentuk kekesalan yang juga ia alami (tindakannya selalu salah di hadapan orang tua).

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Sampaikanlah hal2 atau tindakan2 yang kita inginkan atau butuhkan pada saat kita menegur mereka terhadap perilaku atau hal yang tidak kita sukai.Komnikasikan secara intensif hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan. Dan pada waktunya, ketika mereka sudah megalami dan melakukan segala hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan , ucapkanlah terimakasih dengan tulus dan penuh kasih sayang atas segala usahanya untuk berubah.

5. Menekankan pada Hal-hal yang salah

Kebiasaan ini hampir sama dengan kebiasaan di atas. Banyak orang tua yang sering mengeluhkan tentang anak2nya tidak akur, suka bertengkar. Pada saat anak kita bertengkar, perhatian kita tertuju pada mereka, kita mencoba melerai atau bahkan memarahi. Tapi apakah kita sebagai orang tua memperhatikan mereka pada saat mereka bermain dengan akur? Kita seringkali menganggapnya tidak perlu menyapa mereka karena mereka sedang akur. Pemikiran tersebut keliru, karena hak itu akan memicu mereka untuk bertengkar agar bisa menarik perhatian orang tuanya,

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berilah pujian setiap kali mereka bermain sengan asyik dan rukun, setiap kali mereka berbagi di antara mereka dengan kalimat sederhana dan mudah dipahami, misal: ”Nah, gitu donk kalau main. Yang rukun.” Peluklah mereka sebagai ungkapan senang dan sayang.

6. Merendahkan Diri Sendiri

Apa yang anda lakukan kalau melihat anak anda bermain Playstation lebih dari belajar? Mungkin yang sering kita ucapkan pada mereka, “Woy… mati in tuh PS nya, ntar dimarahin loh sama papa kalo pulang kerja!” Atau kita ungkapkan dengan pernyataan lain, namun tetap dengan figur yang mungkin ditakuti oleh anak pada saat itu. Contoh pernyataan ancaman diatas adalah ketika yang ditakuti adalah figur Papa.

Perhatikanlah kalimat ancaman tersebut. Kita tidak sadar bahwa kita telah mengajarkan pada anak bahwa yang mampu untuk menghentikan mereka maen ps adalah bapaknya, artinya figure yang hanya ditakuti adalah sang bapak. Maka jangan heran kalau jika anak tidak mengindahkan perkataan kita karena kita tidak mampu menghentikan mereka maen ps.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Siapkanlah aturan main sebelum kita bicara; setelah siap, dekati anak, tatap matanya, dan katakan dengan nada serius bahwa kita ingin ia berhenti main sekarang atau berikan pilihan, misal “Sayang, Papa/Mama ingin kamu mandi. Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” bila jawabannya “lima menit lagi Pa/Ma”. Kita jawab kembali, “Baik, kita sepakat setelah lima menit kamu mandi ya. Tapi jika tidak berhenti setelah lima menit, dengan terpaksa papa/mama akan simpan PS nya di lemari sampai lusa”. Nah, persis setelah lima menit, dekati si anak, tatap matanya dan katakan sudah lima menit, tanpa tawar menawar atau kompromi lagi. Jika sang anak tidak nurut, segera laksanakan konsekuensinya.

7. Papa dan Mama Tidak Kompak

Mendidik abak bukan hanya tanggung jawab para ibu atau bapak saja, tapi keduanya. Orang tua harus memiliki kata sepakat dalam mendidik anak2nya. Anak dapat dengan mudah menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi dirinya. Misal, seorang Ibu melarang anaknya menonton TV dan memintanya untuk mengerjakan PR, namun pada saat yang bersamaan, si bapak membela si anak dengan dalih tidak mengapa nonton TV terus agar anak tidak stress.

Jika hal ini terjadi, anak akan menilai ibunya jahat dan bapaknya baik, akibatnya setiap kali ibunya memberi perintah, ia akan mulai melawan dengan berlindung di balik pembelaan bapaknya. Demikian juga pada kasus sebaliknya. Oleh karena itu, orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal2 yang berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. Pada saat salah satu dari kita sedang mendidik anak, maka pasangan kita harus mendukungnya. Contoh, ketika si Ibu mendidik anaknya untuk berlaku baik terhadap si Kakak, dan si Ayah mengatakan ,”Kakak juga sih yang mulai duluan buat gara2…”. Idealnya, si Ayah mendukung pernyataan, “Betul kata Mama, Dik. Kakak juga perlu kamu sayang dan hormati….”

8. Campur Tangan Kakek, Nenek, Tante, atau Pihak Lain

Pada saat kita sebagai orang tua sudah berusaha untuk kompak dan sepaham satu sama lain dalam mendidik anak-anak kita, tiba-tiba ada pihak ke-3 yang muncul dan cenderung membela si anak. Pihak ke-3 yang dimaksud seperti kakek, nenek, om, tante, atau pihak lain di luar keluarga inti.

Seperti pada kebiasaan ke-7 (Papa dan Mama tidak Kompak), dampak ke anak tetap negatif bila dalam satu rumah terdapat pihak di luar keluarga inti yang ikut mendidik pada saat keluarga inti mendidik; Anak akan cenderung berlindung di balik orang yang membelanya. Anak juga cenderung melawan orang tuanya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Pastikan dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah kita untuk memiliki kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat proses pendidikan sedang dilakukan oleh kita sebagai orang tua si anak. Berikan pengertian sedemikian rupa dengan bahasa yang bisa diterima dengan baik oleh para pihak ke-3.

9. Menakuti Anak

Kebiasaan ini lazim dilakukan oleh para orang tua pada saat anak menangis dan berusaha untuk menenangkannya. Kita juga terbiasa mengancam anak untuk mengalihkan perhatiannya, “Awas ada Pak Satpam, ga boleh beli mainan itu!” Hasilnya memang anak sering kali berhenti merengek atau menangis, namun secara tidak sadar kita telah menanamkan rasa takut atau benci pada institusi atau pihak yang kita sebutkan.

Sebaiknya, berkatalah jujur dan berikan pengertian pada anak seperti kita memberi pengertian kepada orang dewasa karena sesungguhnya anak2 juga mampu berpikir dewasa. Jika anak tetap memaksa, katakanlah dengan penuh pengertian dan tataplah matanya, “Kamu boleh menangis, tapi Papa/Mama tetap tidak akan membelikan permen.” Biarkan anak kita yang memaksa tadi menangis hingga diam dengan sendirinya.

10. Ucapan dan Tindakan Tidak Sesuai

Berlaku konsisten mutlak diperlukan dalam mendidk anak. Konsisten merupakan keseuaian antara yang dinyatakan dan tidakan. Anak memiliki ingatan yang tajam terhadap suatu janji, dan ia sanga menghormati orang-orang yang menepati janji baik untuk beri hadiah atau janji untuk memberi sanksi. So, jangan pernah mengumbar janji ada anak dengan tujuan untuk merayunya, agar ia mengikuti permintaan kita seperti segera mandi, selalu belajar, tidak menonton televisi. Pikirlah terlebih dahulu sebelum berjanji apakah kita benar-benar bisa memenuhi janji tersebut. Jika ada janji yang tidak bisa terpenuhi segeralah minta maaf, berikan alasan yang jujur dan minta dia untuk menentukan apa yang kita bisa lakukan bersama anak untuk mengganti janji itu.

11. Hadiah untuk Perilaku Buruk Anak

Acapkali kita tidak konsisten dengan pernyataan yang pernah kita nyatakan. Bila hal ini terjadi, tanpa kita sadari kita telah mengajari anak untuk melawan kita. Contoh klasik dan sering terjadi adalah pada saat kita bersama anak di tempat umum, anak merengek meminta sesuatu dan rengekennya menjadi teriakan dan ada gerak perlawanan. Anak terus mencari akal agar keinginnanya dikabulkan, bahkan seringkali membuat kita sebagai orang tua malu. Pada saat inilah kita seringkali luluh karena tidak sabar lagi dengan rengekan anak kita. Akhirnya kita mengiyakan keinginan si Anak. “Ya sudah;kamu ambil satu permennya. Satu saja ya!”

Pernyataan tersebut adalah sebagai hadiah bagi perilaku buruk si Anak. Anak akan mempelajarinya dna menerapkannya pada kesempatan lain bahkan mungkin dengan cara yang lebih heboh lagi.

Menghadapi kondisi seperti ini, tetaplah konsisten; tidak perlu malu atau takut dikatakan sebagai orang tua yang kikir atau tega. Orang beefikir demikian belum membaca buku tentang ini dan mengalami masalah yang sama dengan kita. Ingatlah selalu bahwa kita sedang mendidik anak, Sekali kite konsisten anak tak akan pernah mencobanya lagi. Tetaplah KONSISTEN dan pantang menyerah! Apapun alasannya, jangang pernah memberi hadiah pada perilaku buruk si anak.

12. Merasa Bersalah Karena Tidak Bisa Memberikan yang Terbaik

Kehidupan metropolitan telah memaksa sebagian besar orang tua banyak menghabiskan waktu di kantor dan di jalan raya daripada bersama anak. Terbatasnya waktu inilah yang menyebabkan banyak orang tua merasa bersalah atas situasi ini. Akibat dari perasaan bersalah ini, kita, para orang tua menyetujui perilaku buruk anaknya dengan ungkapan yang sering dilontarkan, “Biarlah dia seperti ini mungkin karena saya juga yang jarang bertemu dengannya…”

Semakin kita merasa bersalah terhadap keadaan, semakin banyak kita menyemai perilaku buruk anak kita. Semakin kita memaklumi perilaku buruk yang diperbuat anak, akan semakin sering ia melakukannya. Sebagian besar perilaku anak bermasalah yang pernah saya (penulis) hadapi banyak bersumber dari cara berpikir orang tuanya yang seperti ini.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Apa pun yang bisa kita berikan secara benar pada anak kita adalah hal yang terbaik. Kita tidak bisa membandingkan kondisi sosial ekonomi dan waktu kita dengan orang lain. Tiap keluarga memiliki masalah yang unik, tidak sama. Ada orang yang punya kelebihan pada sapek finansial tapi miskin waktu bertemu dengan anak, dan sebaliknya. Jangan pernah memaklumi hal yang tidak baik. Lakukanlah pendekatan kualitas jika kita hanya punya sedikit waktu; gunakan waktu yang minim itu untuk bisa berbagi rasa sepenuhnya antara sisa2 tenaga kita, memang tidak mudah. Tapi lakukanlah demi mereka dan keluarga kita, anak akan terbiasa.

13. Mudah menyerah dan pasrah

Setiap manusia memiliki watak yang berbeda-beda, ada yang lembut dan ada yang keras. Dominan flegmatis adalah ciri atak yang dimiliki oleh sebagian orang tua yang kurang tegas, mudah menyerah, selalu takut salah dan cenderung mengalah, pasrah. Konflik ini biasanya terjadi bila seorang yang flegmatis mempunyai anak yang berwatak keras. Dalam kondisi kita sebagai orang tua yang tidak tegas dan mudah menyerah, si anak justru keras dan lebih tegas. Akibatnya dalam banyak hal, si anak jauh lebih dominan dan mengatur orang tuanya. Akibat lebih lanjut, orang tua sulit mengendalikan perilaku anaknya dan cenderung pasrah. Saya [penulis] sering mendengar ucapan dari para orang tua yang Dominan Flegmatis, “Duh… anak saya itu memang keras betul… saya sudah nggak sanggup lagi mengaturnya.” Atau “Biar sajalah apa maunya, saya sudah nggak sanggup lagi mendidiknya.”.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Belajarlah dan berusahalah dengan keras untuk menjadi lebih tegas dalam mengambil keputusan, tingkatkan watak keteguhan hati dan pantang menyerah. Jiak perlu ambil orang orang yang kita anggap tegas untuk jadi penasihat harian kita.

14. Marah Yang Berlebihan

Kita seringkali menyamakan antara mendidik dengan memarahi. Perlu untuk selalu diingat, memarahi adalah salah satu cara mendidik yang paling buruk. Pada saat memarahi anak, kita tidak sedang mendidik mereka, melainkan melampiaskan tumpukan kekesalan kita karena kita tidak bisa mengatasi masalah dengan baik. Marah juga seringkali hanya berupa upaya untuk melemparkan kesalahan pada pihak lain [dan biasanya yang lebih lemah, kalo ama yang lebih kuat ya takut].

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jangan pernah bicara pada saat marah! Jadi tahanlah dengan cara yang nyaman untuk kita lakukan seperti masuk kamar mandi atau pergi menghindar sehingga amarah mereda. Yang perlu dilakukan adalah bicara “tegas” bukan bicara “keras”. Bicara yang tegas adalah dengan nada yang datar, dengan serius dan menatap wajah serta matanya dalam dalam. Bicara tegas adalah bicara pada saat pikiran kita rasional, sedangkan bicara keras adalah pada saat pikiran kita dikuasai emosi.

Satu contoh lagi yang kurang baik, pada saat marah biasanya kita emosi dan mengucapkan/melakukan hal hal yang kelak kita sesali, setelah ini terjadi, biasanya kita akan menyesal dan berusaha memperbaikinya dengan memberikan dispensasi atau membolehkan hal hal yang sebelumnya kita larang. Bila hal ini berlangsung berulang kali, maka anak kita akan selalu berusaha memancing amarah kita, yang ujung ujungnya si anak menikmati hasilnya. Anak yang sering dimarahi cenderung tidak jadi lebih baik kok.

15. Gengsi untuk menyapa

Kita pasti pernah mengalami bahwa kita terlanjur marah besar pada anak, biasanya amarah terbawa lebih dari sehari, akibat dari rasa kesal yang masih tersisa dan rasa gengsi, kita enggan menyapa anak kita. Masing masing pihak menunggu untuk memulai kembali hubungan yang normal.

Apa yang harus kita lakukan agar komunikasi mencair kembali? Siapa yang seharusnya memulai? Kita sebagai orangtua lah yang seharusnya memulai saat anak mulai menunjukkan tanda tanda perdamaian dan mengikuti keinginan kita. Dengan cara ini kita dapat menunjukkan pada anak bahwa kita tidak suka pada sikap sang anak, bukan pada pribadinya.

16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya

Ini biasanya terjadi pada kebanyakan orang tua konservatif. Misalnya melihat anak laki laki yang suka usil, nakal banget dan suka ngacak, orang tuanya cenderung mengatakan, “Yah… anak cowo emang harus bandel” atau saat melihat kakak adik lagi jambak jambakan, mamanya bilang “maklumlah… namanya juga anak anak”. Atau bahkan ketika si anak memukul teman atau mbaknya, orang tua masih juga sempat berkelit dengan mengatakan “ya begitu deh, maklumlah namanya juga anak anak. Nggak sengaja…”

Bila kita selalu memaklumi tindakan keliru yang dilakukan anak anak, otomatis si anak berpikir perilakunya sudah benar, dan akan jadi sangat buruk kalau terbawa sampai ke dewasa.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Kita tidak perlu memaklumi hal yang tidak perlu dimaklumi kok, kita harus mendidik setiap anak tanpa kecuali sesuai dengan sifat dasarnya. Setiap anak bisa dididik dengan tegas[ingat: bukan keras] sejak usia 2 tahun. Semakin dini usianya, semakin mudah untuk dikelola dan diajak kerja sama. Anak kita akan mau bekerja sama selama kita selalu mengajaknya dialog dari hati ke hati, tegas, dan konsisten. Ingat, tidak perlu menunggu hingga usianya beranjak dewasa, karena semakin bertambah usia, semakin tinggi tingkat kesulitan untuk mengubah perilaku buruknya.

17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya

Seberapa sering kita sebagai orang tua mengungkapkan pernyataan seperti “Awas ya, kalau kamu mau diajak sama mama/papa, tidak boleh nakal!” atau, “awas ya, kalau nanti diajak sama mama/papa, jangan bikin malu mama”, bisa juga terungkap, “kalo mau jalan jalan ke taman bermain, jangan macam macam ya”.

Nah, tanpa disadari kita seringkali menggunakan istilah istilah yang sulit dimengerti ataupun bermakna ganda. Istilah ini akan membingungkan anak kita. dalam benak mereka bertanya apa yang dimaksud dengan nakal, tingkah laku apa yang termasuk dalam kategori nakal, begitu pula dengan istilah “jangan macam macam”, perilaku apa yang termasuk kategori “macam macam”. Selain bingung, mereka juga akan menebak nebak arti dari istilah istilah tersebut.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Bicaralah dengan jelas dan spesifik, misalnya “Sayang, kalau kamu mau ikut mama/papa, tidak boleh minta mainan, permen, dan tidak boleh berteriak teriak di kasir seperti kemarin ya”. Hal ini penting agar anak mengetahui batasan batasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta jangan lupa menyepakati apa konsekuensinya bila kesepakatan ini dilanggar.

18. Mengharap perubahan instan

Kita terbiasa hidup dalam budaya yang serba instant, seperti mie instant, susu instant, teh instant. Sehingga kita anak berbuat salah, kita sering ingin sebuah perubahan yang instant pula, misal ketika biasa terlambat bangun, nggak beresin tempat tidur, sulit dimandikan, kita ingin agar anak kita berubah total dalan jangka waktu sehari.

Apabila kita sering memaksakan perubahan pada anak kita dalam waku singkat tanpa tahapan yang wajar, kemungkinan besar anak sulit memenuhinya. Dan ketika ia gagal dalam memenuhi keinginan kita, ia akan frustasi dan tidak yakin bisa melakukanannya lagi. Akibatnya ia memilih untuk melakukan perlawanan seperti banyak bikin alasan, acuh tak acuh, atau marah marah pada adiknya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jika kita mengharapkan perubahan kebiasaaan pada anak, berikanlah waktu untuk tahapan tahapan perubahan yang rasional untuk bisa dicapainya. Hindari target perubahan yang tidak mungkin bisa dicapainya. Bila mungkin, ajaklah ia untuk melakukan perubahan dari hal yang paling mudah. Biarkanlah ia memilih hal yang paling mudah menurutnya untuk diubah. Keberhasilannya untuk melakukan perubahan tersebut memotivasi anak untuk melakukan perubahan lainnya yang lebih sulit. Puji dan jika perlu rayakan keberhasilan yang dicapainya, sekecil dan sesederhana apapun perubahan itu. Hal ini untuk menunjukkan betapa seriusnya perhatian kita terhadap usaha yang telah dilakukannya. Pusatkan perhatian dan pujian kita pada usahanya, bukan pada hasilnya.

19. Pendengar yang buruk

Sebagian besar orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak anaknya. Benarkah? Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orang tua lebih suka menyela, langsung menasehati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal usul kejadiannya.

Sebagai contoh, anak kita baru saja pulang sekolah yang mestinya pulangnya siang, dia datang di sore hari. Kita tidak mendapat keterangan apapun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita kesal menunggu dan sekaligus khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsung menyambutnya dengan serentetan pertanyaan dan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak bicara, kita selalu memotongnya. Akibatnya ia amalah tidak mau bicara dan marah pada kita.

Bila kita tidak berusaha mendengarkan mereka, maka mereka pun akan bersikap seperti itu pada kita dan akan belajar mengabaikan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jika kita tidak menghendaki hal ini terjadi, maka mulai saat ini jadilah pendengar yang baik. Perhatikan setiap ucapannya. Ajukan pertanyaan pertanyaan untuk menunjukkan ketertarikan kita akan persoalan yang dihadapinya.

20. Selalu menuruti permintaan anak.

Apakah anak kita adalah anak semata wayang? Atau anak laki laki yang ditunggu tunggu dari beberapa anak perempuan kakak-kakaknya? Atau mungkin anak yang sudah bertahun tahun ditunggu tunggu? Fenomena ini seringkali menjadikan orang tua teramat sayang pada anaknya sehingga ia menerapkan pola asuh open bar, atau mo apa aja boleh atau dituruti.

Seperti Radja Ketjil, semakin hari tuntutannya semakin aneh dan kuat, jika ini sudah menjadi kebiasaan akan sulit sekali membendungnya. Anak yang dididik dengan cara ini akan menjadi anak yang super egois, tidak kenal toleransi, dan tidak bisa bersosialisasi.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Betapapun sayangnya kita pada anak, jangan lah pernah memberlakukan pola asuh seperti ini. Rasa sayang tidak harus di tunjukkan dengan menuruti segala kemauannya. Jika kita benar sayang, maka kita harus mengajarinya tentang nilai baik dan buruk, yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang nggak. Jika tidak, rasa sayang kita akan membuat membuatnya jadi anak yang egois dan ‘semau gue’. Inilah yang dalam bahasa awam sering disebut anak manja.

21. Terlalu Banyak Larangan

Ini adalah kebalikan dari kebiasaan di atas. Bila Kita termasuk orang tua yang berkombinasi Melankolis dan Koleris, kita mesti berhati2 karena biasanya kombinasi ini menghasilkan jenis orang tua yang “Perfectionist”. Orang tua jenis ini cenderung ingin menjadikan anak kita seperti apa yang kita inginkan secara SEMPURNA, kita cenderung membentuk anak kita sesuai dengan keinginan kita; anak kita harus begini tidak boleh begitu; dilarang melakukan ini dan itu.

Pada saatnya anak tidak tahan lagi dengan cara kita. Ia pun akan melakukan perlawanan, baik dengan cara menyakiti diri (jika anak kita tipe sensitive) atau dengan perlawanan tersembunyi (jika anak kita tipe keras) atau dengan perang terbuka (jika anak kita tipe ekspresif keras). Oleh karena itu, kurangilah sifat perfeksionis kita, Berilah izin kepada anak untuk melakukan banyak hal yang baik dan positif. Berlatihlah untuk selalu berdialog agar kita bisa melihat dan memahami sudut pandang orang lain. Bangunlah situasi saling mempercayai antara anak dan kita. Kurangilah jumlah larangan yang berlebihan dengan meminta pertimbangan pada pasangan kita. Gunakan kesepakatan2 untuk memberikan batas yang lebih baik. Misal, kamu boleh keluar tapi jam 9 malam harus sudah tiba di rumah. Jika kemungkinan pulang terlambat, segera beri tahu Papa/Mama.

22. Terlalu Cepat Menyimpulkan

Ini adalah gejala lanjutan jika kita sebagai orang tua yang mempunyai kebiasaan menjadi pendengar yang buruk. Kita cenderung memotong pembicaraan pada saat anak kita sedang memberi penjelasan, dan segera menentukan kesimpulan akhir yang biasanya cenderung memojokkan anak kita. Padahal kesimpulan kita belum tentu benar, dan bahan seandainya benar, cara seperti ini akan menyakitkan hati anak kita.

Seperti contoh anak yang pulang terlambat. Pada saat anak kita pulag terlambat dan hendak menjelaskan penyebabnya, kita memotong pembicaraannya dengan ungkapan, “Sudah! Nggak pake banyak alesan.” Atau “Ah, Papa/Mama tahu, kamu pasti maen ke tempat itu lagi kan?!”.

Jika kita emlakukan kebiasaan ini terus menerus, anak akan berpikir kita adalah orang tua ST 001 [alias Sok Tau Nomor Satu], yang tidak mau memahami keadaan dan menyebalkan. Lalu mereka tidak mau bercerita atau berbicara lagi, dan akibat selanjutnya sang anak akan benar benar melakukan hal hal yang kita tuduhkan padanya. Ia tidak mau mendengarkan nasehat kita lagi, dan pada tahapan terburuk, dia akan pergi pada saat kita sedang berbicara padanya. Pernahkah anda mengalami hal ini?

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jangan pernah memotong pembicaraan dan mengambil kesimpulan terlalu dini. Tak seorang pun yang suka bila pembicaraannya dipotong, apalagi ceritanya disimpulkan oleh orang lain.

Dengarkan, dengarkan, dan dengarkan sambil memberikan tanggapan positif dan antusias. Ada saatnya kita akan diminta bicara, tentunya setelah anak kita selesai dengan ceritanya. Bila anak sudah membuka pertanyaan, “menurut Papa/Mama bagaimana?” artinya ia sudah siap untuk mendengarkan penuturan atau komentar kita.

23. Mengungkit kesalahan masa lalu

Kebiasan menjadi pendengar yang buruk dan terlalu cepat menyimpulkan akan dilanjutkan dengan penutup yang tidak kalah menyakitkan hati anak kita, yakni dengan mengungkit ungkit catatan kesalahan yang pernah dibuat anak kita. Contohnya, “Tuh kan Papa/Mama bilang apa? Kamu tidak pernah mau dengerin sih, sekarang kejadian kan. Makanya dengerin kalau orang tua ngomong. Dasar kamu emang anak bodo sih.”

Kiat berharap dengan mengungkit kejadian masa lalu, anak akan belajar dari masalah. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, ia akan sakit hati dan berusaha mengulangi kesalahannya sebagai tindakan balasan dari sakit hatinya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jika kita tidak ingin anak berperilaku buruk lagi, jangan lah diungkit ungkit masa lalunya. Cukup dengan tatapan mata, jika perlu rangkullah ia. Ikutlah berempati sampai dia mengakui kesalahan dan kekeliruannya. Ucapkan pernyataan seperti “manusia itu tempatnya salah dan lupa, semoga ini menjadi pelajaran berharga buat kamu”, atau “Papa/mama bangga kamu bisa menemukan hikmah positif dari kejadian ini”. Jika ini yang kita lakukan, maka selanjutnya dia akan lebih mendengar nasehat kita. Coba dan buktikanlah!.

24. Suka Membandingkan

Hal yang paling menyebalkan adalah saat kita dibandingkan dengan orang lain. Bila kita sedang berada di suatu acara dan bertemu dengan orang yang berpakaian hampir sama atau berwarna sama, kita merasa tidak nyaman untuk berdekatan. Apalagi jiak disbanding bandingkan [FTR, saya tidak merasa seperti ini lho!]

Secara psikologis, kita sangat tdiak suka bila keberadaan kita baik secara fisik atau sifat sifat kita dibandingkan dengan orang lain. Coba ingat ingatlah pengalaman kita saat ada orang yang membandingkan kita, bagaimana perasaan kita saat itu?

Tetapi anehnya, kebanyakan orang tua entah kenapa justru sering melakukan hal ini pada anaknya. Misal membandingkan anak yang malas dengan yang rajin. Anak yang rapi dengan yang gedabrus. Anak yang cekatan dengan anak yang lamban. Terutama juga anak yang mendapat nilai tinggi di sekolah dengan anak yang nilainya rendah. Ungkapan yang sering terdengar biasanya seperti, “Coba kamu mau rajin belajar kayak adik mu, maka pasti nilai kamu tidak seperti ini!”.

Jika kita tetap melakukan kebiasaan ini, maka ada beberapa akibat yang langsung kita rasakan; anak kita makin tidak menukai kita. anak yang dibandingkan akan iri dan dengki dengan si pembanding. Anak pembanding akan merasa arogan dan tinggi hati.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Tiap manusia terlahir dengan karakter dan sifat yang unik. Maka jangan sekali kali membandingkan satu dengan yang lainnya. Catatlah perubahan perilaku masing masing anak. Jika ingin membandingkan, bandingkanlah dengan perilaku mereka di masa lalu, ataupun dengan nilai nilai ideal yang ingin mereka capai. Misalnya, “Eh, biasanya anak papa/mama suka merapikan tempat tidur, kenapa hari ini nggak ya?”

25. Paling benar dan paling tahu segalanya

Egosentris adalah masa alamiah yang terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Usia tersebut adalah masa ketika anak merasa paling benar dan memaksakan kehendaknya. Tapi entah mengapa ternyata sifat ini terbawa dan masih banyak dimiliki oleh para orang tua. Contoh ungkapan orang tua, “ah kamu ini anak bau kencur, tau apa kamu soal hidup.” Atau, “kamu tau nggak, kalo papa/mama ini sudah banyak makan asam garam kehidupan, jadi nggak pake kamu nasehatin papa/mama!”.

Jika kita memiliki kebiasaan semacam ini, maka kita membuat proses komunikasi dengan anak mengalami jalan buntu. Meskipun maksud kita adalah untuk menunjukkan superioritas kita di depan anak, tapi yang ditangkap anak adalah semacam kesombongan yang luar biasa, dan tentu saja tak seorang pun mau mendengarkan nasehat orang yang sombong.

Apa yang seharusnya kita lakukan?
Seringkali usia dijadikan acuan tentang banyaknya pengetahuan juga banyaknya pengalaman. Pada zaman dulu hal ini bisa jadi benar, namun untuk saat ini, kondisi itu tidak berlaku lagi. Siapa yang lebih banyak mendapatkan informasi dan mengikuti kegiatan kegiatan, maka dialah yang lebih banyak tahu dan berpengalaman.

Jadi janganlah merasa menjadi orang yang paling tahu, paling hebat, paling alim. Dengarkanlah setiap masukan yang datang dari anak kita.

26. Saling melempar tanggung jawab

Mendidik anak terutama menjadi tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu. Bila kedua belah pihak merasa kurang bertanggung jawab, maka proses pendidikan anak akan terasa timpang dan jauh dari berhasil. Celakanya lagi, bila orang tua sudah mulai merasakan dampak perlawanan dari anak anaknya, yang sering terjadi malah saling menyalahkan satu sama lain.

Pernyataan yang kerap muncul adalah, “kamu emang nggak becus ngedidik anak”, dan kemudian dibalas “enak aja lo ngomong begitu, nah kamu sendiri, selama ini kemana aja?!”. Jika cara ini yang dipertahankan di keluarga, akankah menyelesaikan masalah? Tunggu saja hasilnya, pasti orang tua lah yang akan menuai hasilnya, sang anak akan merasa perilaku buruknya adalah bukan karena kesalahannya, tapi karena ketidak becusan salah satu dari orang tuanya. Jelas anak kita akan merasa terbela dan semakin berperilaku buruk.

Apa yang seharusnya kita lakukan?
Hentikan saling menyalahkan. Ambillah tanggung jawab kita selaku orang tua secara berimbang.keberhasilan pendidikan ada di tangan orang tua. Pendidikan adalah kerja sama tim, da bukan individu. Jangan pakai alasan tidak ada waktu, semua orang sama sama memiliki waktu 24 jam sehari, jadi aturlah waktu kita dengan berbagai macam cara dan kompaklah selalu dengan pasangan kita.

Selalu lakukan introspeksi diri sebelum introspeksi orang lain.

27. Kakak harus selalu mengalah

Di negeri ini terdapat kebiasaan bahwa anak yang lebih tua harus selalu mengalah pada saudaranya yang lebih muda. Tampaknya hal itu sudah menjadi budaya. Tapi sebenarnya, adakah dasar logikanya dan dimana prinsip keadilannya?

Ada satu contoh nyata seperti berikut:

Ada seorang kakak beradik, kakak bernama Dita dan adik bernama Rafiq. Neneknya selaku pengasuh utama selalu memarahi Dita ketika Rafiq menangis. Tanpa mengetahui duduk persoalan serta siapa yang salah dan benar, si Nenek selalu membela si adik dan melimpahkan kesalahan pada kakaknya. “Kamu ini gimana sih? Sudah besar kok tidak mau mengalah ama adiknya.” Begitulah ucapan yang keluar dari mulut si Nenek. Terkadang dibumbui dengan cubitan pada kakaknya.

Apa yang terjadi selanjutnya? Dita menjadi anak yang tidak memiliki rasa percaya diri. Ia pun mulai membenci adiknya. Lama kelamaan Dita mulai banyak melawan atas ketidak adilan ini, dan yang terjadi kemudian adalah kedua bersaudara ini makin sering bertengkar. Sementara Rafiq yang selalu dibela bela menjadi makin egois dan makin berani menyakiti kakaknya, selalu merasa benar dan memberaontak. Sang nenek perlahan lahan menobatkan Radja Ketjil yang lalim di tengah keluarga ini.

Apa yang seharusnya kita lakukan?
Anak harus diajari untuk memahami nilai benar dan salah atas perbuatannya terlepas dari apakah dia lebih muda atau lebih tua. Nilai benar dan salah tidak mengenal konteks usia. Benar selalu benar dan salah selalu salah berapapun usia pelakunya.

Berlakulah adil. Ketahuilah informasi secara lengkap sebelum mengambil keputusan. Jelaskan nilai benar dan salah pada masing masing anak, buat aturan main yang jelas yang mudah dipahami oleh anak anak anda.

28. Menghukum secara fisik

Dalam kondisi emosi, kita cenderung sensitif oleh perilaku anak, dimulai dengan suara keras, dan kemudian meningkat menjadi tindakan fisik yang menyakiti anak.

Jika kita terbiasa dengan keadaan ini, kita telah mendidiknya menjadi anak yang kejam dan trengginas, suka menyakiti orang lain dan membangkang secara destruktif. Perhatikan jika mereka bergaul dengan teman sebayanya. Percaya atau tidak, anak akan meniru tindakan kita yang suka memukul. Anak yang suka memukul temannya pada umumnya adalah anak yang sering dipukuli di rumahnya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jangan pernah sekalipun menggunakan hukuman fisik kepada anak, mencubit, memukul, atau menampar bahkan ada juga yang pakai alat seperti cambuk, sabuk, rotan, atau sabetan.

Gunakanlah kata kata dan dialog, dan jika cara dialog tidak berhasil maka cobalah evaluasi diri kita. Temukanlah jenis kebiasaan yang keliru yang selama ini telah kita lakukan dan menyebabkan anak kita berperilaku seperti ini.

29. Menunda atau membatalkan hukuman

Kita semua tahu bahaya yang luar biasa dari merokok, mulai dari kanker, impotensi, sampai gangguan kehamilan dan janin. Tapi mengapa masih banyak yang tidak peduli dan tetap membandel untuk terus menjadi ahli hisap? Jelas karena akibat dari rokok itu terjadi kemudian dan bukan seketika itu juga.

Begitu juga dengan anak kita. Jika anda menjanjikan sebuah konsekuensi hukuman atau sanksi bila anak berperilaku buruk, jangan menunggu waktu yang terlalu lama, menunda, atau bahkan membatalkan karena alasan lupa atau kasihan.

Bila telah terjadi kesepakatan antara kita dan anak seperti tidak boleh minta minta dibelikan permen atau mainan dan ternyata anak mencoba coba untuk merengek, kita ingatkan kembali pada kepadanya tentang kesepakatan yang kita buat bersama. Anak biasanya akan berhenti merengek. Namun sayangnya kietika anak berhenti merengek , kita menganggap masalah susah selesai dan akhirnya kita menunda atau bahkan membatalkan hukuman entah karena lupa atau kasihan. Apa akibatnya? Anak akan mempunya anggapan bahwa kita hanya omong doang, maka mereka akan mempunya tendensi untuk melanggar kesepakatan karena hukuman tidak dilaksanakan.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jila kita sudah mempunyai kesepakatan dan anak melanggarnya, maka sanksi harus dilaksanakan, jika kita kasihan, kita bisa mengurangi sanksinya, dan usahakan hukumanya jangan bersifat fisik, tapi seperti pengurangan bobot kesukaan mereka seperti jam bermain, menonton tv, ataupun bermain video game.

30. Terpancing Emosi

Jika ada keinginannya yang tidak terpenhi anak sering kali rewel atau merengak, menagis, berguling dsb, dengan tujuan memancing emosi kita yang apda kahirnya kita marah atau malah mengalah. Jika kita terpancing oleh emosi anak, anak akan merasa menang, dan merasa bisa megendalikan orang tuanya. Anak akan terus berusaha mengulanginya pada kesempatan lain dengan pancingan emosi yang lebih besar la gi.

Apa yang seharusnya kita lakukan?
Yang terbaik adalah diam, tidak bicara, dan tidak menanggapi. Jangan pedulikan ulah anak kita. Bila anak menangis katakan padanya bahwa tangisannya tidak akan mengubah keputusan kita. Bila anak tidak menangis tapi tetap berulah, kita katakan saja bahwa kita akan mempertimbangkan keputusan kita dengan catatan si anak tidak berulah lagi. Setelah pernyataan itu kita keluarkan, lakukan aksi diam. Cukup tatap dengan mata pada anak kita yang berulah, hingga ia berhenti berulah, Bila proses ini membutuhkan waktu lebih dari 30 menit tabahlah untuk melakukannya. Dalam proses ini kita jangan malu pada orang yang memperhatikan kita; dan jangan pula ada orang lain yang berusaha menolong anak kita yang sedang berulah tadi… SEKALI KITA BERHASIL MEMBUAT ANAK KITA MENGALAH, MAKA SELANJUTNYA DIA TIDAK AKAN MENGULANGI UNTUK YANG KEDUA KALINYA.

31. Menghukum Anak Saat Kita Marah

Hal yang perlu kita perhatikan dan selalu ingat adalah jangan pernah memberikan sanksi atau hukuman apa pun pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, baik dalam bentuk kata2 maupun hukuman akan cenderung menyakiti dan menghakimi dan tidak menjadikan anak lebih baik. Kejadin tersebut akan membekas meski ia telah beranjak dewasa. Anak juga bisa mendendam pada orang tuanya karena sering mendapatkan perlakuan di luar batas.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bila kita sedang sangat marah segeralah menjauh dari anak. Pilihlah cara yang tepat untuk bisa menurunkan amarah kita dengan segera.
Saat marah kita cenderung memberikan hukuman yang seberat2ya pada anak kita, dan hanya akan menimbulkan perlawanan baru yang lebih kuat dari anak kita, sementara tujuan pemberian sanksi adalah untuk menyadarkan anak supaya ia memahami perilaku buruknya. Setelah emosi reda, barulah kita memberikan hukuman yang mendidik dan tepat dengan konteks kesalahan yang diperbuat. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk mendidik bukan menyakiti. Pilihlah bentuk sanksi atau hukuman yang mengurangi aktivitas yang disukainya, seperti mengurangi waktu main game, atau bermain sepeda.

32. Mengejek

Orang tua yang biasa menggoda anaknya, seringkali secara tidak sadar telah membuat anak menjadi kesal. Dan ketika anak memohon kepada kita untuk tidak menggodanya, kita malah semakin senang telah berhasil membuatnya kesal atau malu. Hal ini akan membangun ketidaksukaan anak pada kita dan yang sering terjadi anak tidak menghargai kita lagi. Mengapa? Karena ia menganggap kita juga seperti teman2nya yang suka menggodanya,

Apa yang seharusnya kita lakukan?
Jika ingin bercanda dengan anak kita, pilihlan materi bercanda yang tidak membuatnya malu atau yang merendahkan dirinya. Akan jauh lebih baik jika seolah-olah kitalah yang jadi badut untuk ditertawakan. Anak kita tetap aka n menghormati kita sesudah acara canda selesai. Jagalah batas2 dan hindari bercanda yang bisa membuat anak kesal apalagi malu. Bagimana caranya? Lihat ekspresi anak kita. Apakah kesal dan meminta kita segera menghentikannya? Bila ya, segeralah hentikan dan jika perlu meminta maaflah ayas kejadian yang baru terjadi. Katakan bahwa kita tidak bermaksud merendahkannya dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

33. Menyindir

Terkadang karena saking marahnya orang tua sering mengungkapkannya dengan kata2 singkat yang pedas dengan maksud menyindir, seperti, “Tumben hari gini sudah pulang”, atau “Sering2 aja pulang malem!” atau”Memang kamu pikir Mama/Papa in satpam yang jaga pintu tiap malam?”.

Kebiasaan ini tidak akan membuat anak kita menyadari akan perilaku buruknya tapi malah sebaliknya akan mebuat ia semakin menjadi-jadi dan menjaga jarak dengan kita. Kita telah menyakiti hatinya dan membuatnya tidak ingin berkomunikasi dengan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Katakanlah secara langsung apa yang kita inginkan dengan kalimat yang tidak menyinggung perasaan, memojokkan bahkan menyakiti hatinya. Katakan saja, “Sayang, Papa/Mama khawatir akan keselamatan kamu lho kalo kamu pulang terlalu malam”. Dan sejenisnya.

34. Memberi julukan yang buruk

Kebiasaan memberikan julukan yang buruk pada anak bisa mengakibatkan rasa rendah diri, tidak percaya diri/mimder, kebencian juga perlawanan. Adakalanya anak ingin membuktikan kehebatan julukan atau gelar tersebut pada orang tuanya.

Solusinya
Mengganti julukan buruk dengan yang baik, seperti, anak baik, anak hebat, anak bijaksana. Jika tidak bisa menemukannya cukup dengan panggil dengan nama kesukaannya saja.

35. Mengumpan Anak yang Rewel

Pada saat anak marah, merengek atau menangis, meminta sesuatu de ngan memaksa, kita biasanya mengalihkan perhatiannya kepada hal atau barang lain. Hal ini dimaksudkan supaya anak tidak merengek lagi. Namun yang terjadi malah sebaliknya, rengekan anak semakin menjadi-jadi. Contohnya, anak menangis karena ia minta dibelikan mainan, Kemusian kita berusaha membuatnya diam dengan berusaha mengalihkan perhatiannya seperi, ” Tuh lihat tuh ada kakak pake baju warna apa tuh…”atau” Lihat ini lihat, gambar apa ya lucu banget?”

Ingatlah selalu, pada saat anak kita sedang fokus pada apa yang diinginkannya, ia akan memancing emosi kita dan emosinya sendiri akan menjadi sensitif. Anak kita pada umumnya adalah anak yang cerdas. ia tidak ingin diakihkan ke hal lain jika masalah ini belum ada kata sepakat penyelesaiannya. Semakin kita berusaha mengalihkan ke hal lain, semakin marah lah anak kita.

Apa yang sebaiknya dilakukan?
Selesaikan apa yang diinginkan oleh anak kita dengan membicarakannya dan membuat kesepakatan di tempat, jika kita belum sempat membuat kesepakatan di rumah. Katakan secara langsung apa yang kita inginkan terhadap permintaan anak tesebut, seperti “Papa/Mama belum bisa membelikan mainan itu saat ini. Jika kamu mau harus menabung lebih dahulu. Nanti Papa/Mama ajari cara menabung. Bila kamu terus merengak kita tidak jadi jalan-jalan dan langsung pulang.” Jika kalimat ini yang kita katakan dan anak kita tetap merengek, segeralah kita pulang meski urusan belanja belum selesai, Untuk urusan belanja kita masih bisa menundanya. Tapi jangan sekali-kali menunda dalam mendidik anak.

36. Televisi sebagai agen Pendidikan Anak

Perilaku anak terbentuk karena 4 hal:
Berdasar kepada siapa yang lebih dulu mengajarkan kepadanya: kita atau TV?
Oleh siapa yang dia percaya: apakah anak percaya pada kata2 kita atau ketepatan wakyu program2 TV?
Oleh siapa yang meyampaikannya lebih menyenangkan: apakah kita menasehatinya dengan cara menyenangkan atau program2 TV yang lebih menyenangkan?
Oleh siapa yang sering menemaninya: kita atau TV?
Apa yang seharusnya kita lakukan?
Bangun komunikasi dan kedekatan dengan mengevaluasi 4 hal tersebut yang menjadi faktor pembentuk perilaku anak kita.
Menggantinya dengan kegiatan di rumah atau di luar rumah yang padat bagi anak2nya.
Gantilah program TV dengan film2 pengetahuan yang lebih mendidik dan menantang mulai dari kartun hingga CD dalam bentuk permainan edukatif.

37. Mengajari Anak untuk Membalas

Sebagian anak ada yang memiliki kecenderungan suka memukul dan sebagian lagi menjadi objek penderita dengan lebih banyak menerima pukulan dari rekan sebayanya. Sebagian orang tua biasanya tidak sabar melihat anak kita disakiti dan memprovokasi anak kita unutuk membalasnya. Hal ini secara tidak langsung mengajari anak balas dendam. Sebab pada saat itu emosi anak sedang sensitif dan apa yang kita ajarkan saat itu akan membekas. Jangan kaget bila anak kita sering membalas atau membalikkan apa yang kita sampaikan kepadanya.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?:

Mengajarkan anak untuk menghindari teman-teman yang suka menyakiti.
Menyampaikan pada orang tua yang bersangkutan bahwa anak kita sering mendapat perlakuan buruk dari anaknya.
Ajaklah orang tua anak yang suka memukul untuk mengikuti program parenting baik di radio atau media lainnya.

Share
Apr 092014
 

Tiba saatnya pesta demokrasi yang berlangsung 5 tahun sekali. Teramat besar biaya yang harus dikeluarkan untuk sekedar sebuah pesta dimana hasilnya menurut saya tak se-signifikan dengan biaya yang harus dikeluarkan. Minimnya partisipasi dari masyarakat, disamakannya suara antara seorang ulama dengan seorang penjahat, belum lagi tidak tahu siapa yang dipilih serta tak kuasanya kita ikut menitipkan suara kepada yang terpilih. Belum lagi yang sudah terpilih banyak yang menyeleweng dari tujuan semula, yang biasanya hanya bertujuan memperkaya diri sendiri.

Karena itulah sejak beberapa tahun yang lalu saya selalu memilih untuk tidak memilih. Dulu saya adalah simpatisan partai dakwah, akan tetapi setelah mendengar kabar bahwa partai ini sama saja dengan yang lain maka saya jadi kecewa. Apalagi setelah nyata-nyata pengurus intinya tersandung kasus korupsi. Itulah puncak kekecewaan saya. Saya mungkin tak peduli jika partai lain melakukan hal serupa, saya anggap “wajar”. Tapi kalau partai yang mengaku bersih, dibangun dari dan oleh orang-orang yang bersih maka saya tidak rela. Saya memilih partai ini bukan karena ajakan siapa pun. Saya begitu mengenal partai ini seakan saya menemukan rumah baru, rumah harapan. Saya juga menemukan teman-teman seperjuangan saya di sana. Itulah yang membuat saya sangan kecewa saat partai ini mengecewakan banyak simpatisannya. Saya merasa partai ini adalah benteng terakhir pertahanan terhadap penyelewengan. Jika partai ini saja tak tahan godaan korupsi, mau partai mana lagi yang bisa dipercaya?

Sebelum pemilu ini saya juga pernah punya tekad mendukung salah satu caleg dari partai lain, karena kami mempunyai kontrak politik, dimana jika kami mendukung caleg tersebut maka jika jadi dia akan membangun lingkungan kami. Akan tetapi seakan kontrak itu dinodai karena caleg tersebut juga menjanjikan uang transport bagi siapa yang bersedia memilihnya. Kembali harapan pun kandas. Sepertinya tidak ada lagi politisi yang jujur di negeri ini. Bahkan caleg dari partai dakwah pun juga bagi-bagi uang di lingkungan kami.

Pagi ini seperti biasa saya sudah memutuskan untuk abstain, meskipun saya bertugas sebagai ketua KPPS. Tapi pagi ini saya mendapat sebuah broadcast message dari grup BBM yang isinya kurang lebih

“kita wajib berusaha berjuang dengan segala .kemampuan yang kita miliki sebagai wujud keimanan dan pembelaan terhadap agama yang mulia ini.
bahwa tidak memilih dalam pemilu sama sekali bukan pilihan bijak, karena sama saja menyerahkan leher kalian untuk disembelih oleh mereka yang terlaknat…
jika alasan golput karena demokrasi itu haram, lalu apa solusinya untuk menegakkan Islam? Bagaimana memperjuangkan aspirasi Islam agar tidak ditindas musuh-musuhnya?
Bahwa Islam bukan hanya urusan Sholat, Puasa, Jilbab dan hal-hal sejenisnya. Rosulullah juga berjihad, berpolitik dan mengatur negara.
Betul partai X bisa jadi bukan partai terbaik dan masih banyak kekurangannya, tapi mereka selalu berusaha memperbaikinya. Jika ada partai lain yang jelas-jelas memperjuangkan Islam maka saya pasti akan mengajak Saudara untuk memilihnya.
KEWAJIBAN KITA MELIHAT URUSAN DZAHIR, URUSAN BATIN BIARLAH MENJADI URUSAN PARTAI TERSEBUT DENGAN ALLAH”

Saya sejenak terdiam, merenung dan tak kuasa membendung air mata. Saat itu juga saya memutuskan untuk tidak abstain. Semoga Allah tetap membimbing saya.

Saudaraku… itulah keputusanku. Jika Anda tidak sependapat dengan saya, ijinkan saya tetap menjadi saudara Anda karena Allah.

Share
Apr 062014
 

Hari ini genap 37 tahun usiaku.
Memang tidak ada yang istimewa, hanya sebuah pertanda bahwa setahun lagi sudah berkurang jatah umurku. Saatnya untuk instrospeksi diri.

Terima kasih pada saudara semua atas semua doa-doanya. Terima kasih kepada teman sahabat yang telah memberikan sesuatu yang istimewa. Kalian membuat saya merasa menjadi orang yang spesial.

Bagi kalian kupersembahkan sebuah kisah yang aku ambil dari sebuah buku karangan Darwis Tereliye
“Di sebuah kampung yang terletah pada suatu oase di sebuah padang pasir tinggallah seorang arab. Hidupnya biasa-biasa saja. Ia tumbuh, menikah tapi tidak dikaruniai seorang anak. saat usianya menua, istrinya pun meninggal. Tinggallah dia seorang diri. Dia merenung, untuk apa Tuhan menciptakannya? Dia merasa tidak berarti.

Hingga suatu ketika, oase itu sudah tidak mempunyai air yang melimpah, tanah pertanian sudah tidak menghasilkan lagi, sehingga satu demi satu tetangganya pindah ke tempat lain yang lebih baik. Seorang Arab ini sebenarnya mau pindah juga, tetapi saat akan pindah sepertinya ada bisikan agar ia tetap tinggal. Sampai seluruh penduduk di kampungnya meninggalkannya sendiri. Ia tetap tinggal di rumahnya yang reyot. Dan pada usia yang ke 80 dia pun meninggal dengan sebuah tanya Untuk apa dia hidup menderita sampai usia 80 ahun. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Pada hari ia meninggal, lewatlah serombongan kafilah dagang di desa tersebut. Mereka mengambil air secukupnya
lalu pergi lagi, tak mempedulikan Arab tua yang meninggal. Kecuali seorang pedagang, dia tinggal sejenak untuk menguburkan arab tua itu dengan layak. Dan karena selesai menguburkannya sudah malam, maka dia bermalam dan melanjutkan perjalanan untuk menyusul rombongan keesokan harinya.

Esoknya dia berangkat dan akhirnya dia bisa menyusul rombongannya, tapi tak satu pun dari rombongan itu yang masih hidup. Ternyata rombongan ini dicegat perampok dan semuanya dibunuh, seluruh hartanya dirampas. Dan dari seluruh kafilah dagang ini hanya dia lah yang masih hidup. Dan puluhan generasi selanjutnya dari pedagang yang baik ini lahir seorang pemimpin besar yang dipanggil Al-Amin.”

Apa pesan cerita ini?
Seorang Arab tua yang menganggap dirinya tak berguna ternyata diciptakan Tuhan untuksebuah tujuan besar. Bukan pada saat dia hidup. Tuhan sengaja menahannya agar tidak meninggalkan kampungnya lalu mewafatkannya pada hari dimana seorang pedagang yang baik ini lewat agar pedagang ini berhenti dari perjalanannya, agar dia selamat, agar dengan sebab dirinya lahirlah seorang pemimpin besar. Begitulah cara Tuhan bekerja.

Tapi apakah cerita ini pernah benar-benar terjadi? Di dunia di mana konon tercipta hanya dari sebuah ledakan besar yang
kemudian bisa membentuk seorang makhuk cantik seperti dirimu adakah yang mustahil? Wallahu ‘alam

The Purpose of Life is to Live a Life of Purpose

Share
Jan 302013
 

Sejak saya mempunyai handphone pertama kali hal yang tidak lupa saya lakukan adalah mengoptimalkan penggunaan handphone tersebut sampai semaksimal mungkin baik dari penampilan maupun performa. Hal ini saya lakukan bahkan pada HP Nokia 3315 kepunyaan saya. Minimal gonta ganti tampilan yang tak lazim, digunakan untuk mengirim flash message, dijadikan mesin SMS dll. Hal ini berlanjut ke HP N-Gage, SE seri walkman, Nokia CDMA 2112 (dijadikan modem), Nokia C3, HP Cina, sampai Android yang saya miliki sekarang Samsung Galaxy Young.

Pertimbangan saya dalam memilih HP yang utama adalah masalah harga. Dengan harga murah bagaimana kita bisa mendapatkan benefit yang sebesar-besarnya, maka salah satunya adalah dengan mengopreknya. Kali ini yang jadi korban adalah Samsung Galaxy Young saya yang saya pasang Custom ROM Jelly Blast dan Kernel Hells Fussion.

Mengapa saya pilih Cusrom ini karena menurut review ROM ini stabil, tidak banyak Bug, sering diupdate, tidak memakai A2SD, banyak tweaknya yang sangat cocok untuk gadget Android saya. Untuk fitur lengkapnya silakan lihat di http://forum.xda-developers.com/showthread.php?t=1679563

Continue reading »

Share
Jan 302013
 

Flashing adalah proses memasukkan suatu software kedalam suatu device menggunakan downloader. Pada Android juga dikenal istilah flashing, flashing di sini adalah menginstall ulang system software ke dalam device android. Cara flashing berbeda-beda, tergantung dari tipe handheld-nya.

Flasing bisa dilakukan dengan bantuan komputer, untuk Samsung biasanya dengan software ODIN (only for windows), dan bisa langsung di HH kita dengan CWM (Clockwork Mode). Di sini kita akan belajar flashing dengan ODIN.

Sebelum melakukan flashing harap diingat bahwa prosedur ini beresiko bootloop jika melakukan kesalahan, jadi DO IT WITH YOUR OWN RISK.

  1. Charge battery Android Anda, jangan sampai proses terhenti di tengah jalan. Level battery 75% seharusnya mencukupi.
  2. Siapkan Komputer dan install driver Android Samsung Galaxy Young dari CD instalasi.
  3. Download ODIN, untuk Galaxy Young kita gunakan versi 1.84 atau 1.85. Silakna pilih
    Odin v1.84
    Odin v1.85
    Odin v3.04  (Samsung Galaxy SII)
    Odin v4.38
    Odin v4.42 
    Odin v4.43
  4. Download firmware Samsung Galaxy Young
    Berikut adalah list download firmware Stock ROM untuk Galyoung, berhubung kita orang Indonesia, saya kasih firmware untuk Asia Tenggara :D
    GT-S5360DXKL2,
    GT-S5360DXLA1,
    GT-S5360DXLB1,
    GT-S5360DXLE1,
    GT-S5360DXLC1,
    GT-S5360DXLE1,
    GT-S5360DXLF2,
    GT-S5360DXLI1,
  5. Ekstrak file tersebut, dari hasil ekstrak tersebut ada 3 file *.tar atau *.tar.md5
  6. Jalankan odin
  7. Boot Galyoung ke download mode dengan menekan tombol volume down + tombol home dan tanpa melepas keduanya tekan tombol power kira-kira 3 detik sampai muncul logo samsung dan lepaskan ketiganya. Akan ada peringatan dan pilih lanjutkan dengan menekan tomvol volume up, maka Anda masuk ke download mode.
  8. Hubungkan handheld Anda dengan kabel USB maka ODIN akan mendeteksinya.
  9. Masukkan file yang sudah di ekstrak tadi ke dalam odin, PDA=PDA_xxxx.tar, PHONE=MODEM_ atau PHONE_xxxxx.tar, CSC=CSC_xxxxx.tar. PIT dikosongi saja dan JANGAN centang repartition.
  10. Tekan Start, tunggu dan jangan sampai kabel terlepas sampai flashing selesai dan muncul tulisan PASS! di ODIN, dan Galyoung anda akan reboot.
  11. Jika terjadi bootloop, boot ke recovery mode. (vol up + home + power), lakukan wipe data/factory reset lalu reboot.

Sekarang ROM baru sudah terpasang. Anda juga bisa memasang Custom ROM dengan cara yang sama, tinggal cari Custom ROM yang Anda inginkan.

Prosedur ini juga bisa untuk flasing Kernel, tinggal cari file kernel yang Anda inginkan dan letakkan di field PDA. berikut adalah Stock kernel Samsung Galaxy Young 

Jika ada link rusak silakan hubungi saya

http://ian-droid.blogspot.com/

Share
Jan 292013
 

Apakah sih root itu? Secara singkat root yang artinya akar berarti kita bisa mengakses file sistem (root) dari OS Android yang dipakai di Samsung Galaxy Y S5360. Dengan proses root kita bisa lebih mengoptimalkan kinerja Samsung Galaxy Y, mengconvert file sistem di Samsung Galaxy Y S5360 dari RFS ke EXT4 sampai kita bisa menghapus/delete atau uninstall aplikasi bawaan Samsung Galaxy Y S5360 yang tidak diperlukan.
Proses rooting adalah dengan menanamkan aplikasi ke dalam system Android dengan cara yang tidak biasa, bukan dengan cara install seperti aplikasi biasa.

 

 

Harap diketahui bahwa dengan rooting ini bisa berakibat hilangnya garansi perangkat
android Anda, atau jika salah bisa merusak software Android Anda (tetapi masih bisa
diperbaiki). DO WITH YOUR OWN RISK

Berikut ini adalah Tutorial Cara Root Samsung Galaxy Y S5360.

  1. Download file untuk rooting Android Anda di sini.
  2. Copy file update.zip tersebut ke dalam SD Card Anda (letakkan di folder terluar, jangan di dalam flder agar mudah dicari. Copy bisa dengan menggunakan Card reader maupun dengan kabel USB yang dihubungkan dengan perangkat Android Anda.
  3. Pasang SD Card, cabut kabel USB jika tersambung ke komputer dan matikan perangkat Android Anda sampai benar-benar mati (ditandai dengan bergetar).
  4. Masuk ke recovery mode dengan cara menekan tombol home + tombol volume up dan tanpa melepas keduanya lalu menekan tombol power kira-kira 3 detik sampai Android Anda menyala dan lepaskan ketiganya.
  5. Setelah muncul menu recovery menyerupai di atas (bisa berbeda tergatung versinya), pilih menu ”Apply update.zip” lalu pilih file update.zip tadi. Untuk menggerakkan kursor tidak bisa menggunakan layar sentuh tapi tekan tombol volume naik atau turun, dan untuk memilih tekan tombol home.
  6. Tunggu beberapa saat sampai proses rooting selesai lalu pilih menu ”Reboot System Now”
  7. Setelah reboot maka seharusnya Anda dapat menemui aplikasi superuser di Android Anda.

Nah Bagaimana cara unroot?

  1. Download file unroot di sini
  2. File ini tidak bisa dipakai langsung tapi harus diextrak terlebih dahulu. Extrak file tersebut dan copy ke SD Card seperti cara di atas.
  3. Pasang SD Card, cabut kabel USB jika tersambung ke komputer dan matikan perangkat Android Anda sampai benar-benar mati (ditandai dengan bergetar).
  4. Masuk ke recovery mode seperti cara di atas.
  5. Setelah muncul menu recovery pilih menu ”Apply update from SD Card” lalu pilih file unroot zip yang tadi.
  6. Tunggu dan pilih menu ”Reboot System Now”

Jika ada link file tidak tersedia silakan hubungi saya.

http://www.android-indonesia.com/forum/samsung-galaxy-y/119262-cara-root-samsung-galaxy-y-s5360

http://tipstrikandroid.blogspot.com/2012/11/cara-unroot-samsung-galaxy-young.html

Share
Jan 292013
 

Memiliki perangkat Android tidaklah seperti memiliki handphone, smartphone atau gadget lainnya. Gadget ini berfungsi layaknya komputer, jadi memiliki kegunaan lebih dibanding gadget lainnya. Akan tetapi gadget Android tidak bisa digunakan maksimal jika kita menggunakannya biasa-biasa saja.

Beberapa hal di bawah ini akan menjadikan gadget Android Anda bekerja maksimal:

1. Memiliki akun Google

Karena android adalah sistem yang dioperasikan oleh Google jadi anda membutuhkan akun Google atau Gmail untuk menggunakan banyak fitur yang disediakan di dalam gadget Android anda. Nah, bila anda belum memilikinya, anda dapat langsung membuatnya melalui android anda karena biasanya saat pertama kali anda mengakses beberapa fitur yang terhubung dengan Google seperti Android Market anda akan langsung menemukan pilihan untuk membuat akun Gmail. Dan proses pembuatan email inipun cukup mudah, anda hanya perlu mengisi beberapa informasi dan data diri yang diminta serta nama akun dan password pilihan anda. Sedangkan bila anda telah memilikinya, anda cukup memasukkan nama akun dan password untuk mendaftarkan smartphone anda.

2. Berlangganan Data Plan

INGAT hampir semua aplikasi android memiliki izin mengakses internet. Jadi jangan kaget bila anda tidak berlangganan paket internet namun pulsa akan cepat habis. Saran saya berlanggananlah data yang unlimited, atau pengalaman saya langganan data 1 GB sebulan sudah cukup.

3. Sebaiknya Gunakan SD Card Class 10

SD Card kelas 10 merupakan SD Card tercepat diantara kelas lainnya yang mampu menulis (write speed) diatas 10 Mbps

4. Tingkatkan Keamanan

Cegah orang lain menggunakan gadget Android Anda dengan mengamankannya dengan Pin, Pattern/pola atau bahkan Face Unlock (bagi pengguna ICS)

5. Root Gadget Android Anda

Ini adalah hal yang agak beresiko tetapi hasilnya setimpal. Proses rooting Android adalah membuka akses seluas-luasnya terhadap gadget Android Anda, sehingga dapat Anda gunakan secara maksimal. Dengan rooting berarti kita mempunyai hak akses seperti layaknya Admin pada perangkat komputer, bukan hanya user biasa. Salah satu previlagenya adala kita bisa mengoprek gadget kita sesuai keinginan kita misalnya mengganti kernel (jantung sistem operasi Android kita) untuk memperoleh kinerja maksimal dan masih banyak lagi. Hal yang harus diingat bahwa dengan rooting Android kita maka bisa berakibat hilangnya garansi dari vendor maupun rusaknya software jika salah. Akan tetapi selama kerusakan bukan pada hardware maka semua bisa diperbaiki tentunya.

Untuk cara rooting bisa disimak di http://priyess.com/2013/01/cara-root-dan-unroot-android-samsung-galaxy-young-s5360/

http://ilmu-android.blogspot.com/2012/11/hal-hal-yang-wajib-dilakukan-untuk.html

Share
Jan 242013
 

Tulisan Syekh Syarif Hatim Al-Oweini, dosen di Jamiah Ummul Qura, Mekah, ttg hukum memperingati maulid cukup bijak.

Berbicara tentang hukum maulid nabi harus berdasarkan ilmu dan adil. Jangan sampai diingkari adanya perbedaan pendapat di sana, dan bahwa ada sebagian ulama mulia yg menyatakan kebolehannya dengan sejumlah syarat. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan ijmak sunah melaksanakannya dengan syarat-syarat tersebut. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah dalam kitabnya “Iqtidha AshShirathal Mustaqim” meskipun dia menyatakan bahwa maulid adalah bid’ah, namun dia memaklumi orang yang melaksanakannya, bahkan meyakini mereka mendapatkan pahala yang besar. Beliau berkata: “Menghormati maulid dan menjadikannya sebagi momen khusus, boleh jadi dilakukan sebagian orang dan baginya pahala yg besar, karena niatnya yang baik dan penghormatannya terhadap Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam. Sebagaimana telah saya sampaikan, boleh jadi sebagian orang menganggap baik sesuatu yang dianggap buruk oleh mereka yang benar”.

Adapun uraian hukum maulid secara terperinci adalah sebagai berikut:

Siapa yang ingin memanfaatkan hari maulid untuk mengingat sirah/sejarah Nabi atau membangkitkan sentimen kecintaan terhadapnya dalam jiwa kaum muslimin, tanpa ghuluw/berlebihan (seperti istighotsah/mohon pertolongan kpdnya), jika tidak diiringi kemunkaran (seperti ikhtilath) atau khurafat (keyakinan kehadiran Nabi secara fisik) juga tanpa keyakinan ada keutamaan khusus untuk memperingatinya pada hari tertentu, tapi sekedar memanfaatkan waktu terjadinya peristiwa agung agar hadir dalam jiwa, sebagaimana para khatib berbicara tentang perang Badar pd tgl 17 Ramadan atau peristiwa Fathu Mekah pd tgl 20 Ramadan, atau berbicara tentang peristiwa hijrah pada setiap awal tahun hijriah, maka dia hukumnya halal karena hal tersebut tidak ada kaitannya dengan keyakinan terhadap ibadah yang bid’ah.

Maka dengan syarat-syarat tersebut masalahnya jadi beralih dari bid’ah kepada maslahah mursalah (Maslahah mursalah adalah perkara-perkara umum yang dipandang baik menurut tinjauan syara karena mendatangkan manfaat, jika tidak ada dalil khusus yg melarangnya), sebab kandungannya tak lain kecuali sarana yang mengantarkan kepada maslahat syar’i, yaitu mengingatkan pada sejarah Nabi Sallallaahu Alayhi Wasallam, dan menghidupkan emosi cinta kepada beliau di dalam jiwa-jiwa kaum muslimin. Saya merasa perlu meluruskan tentang kebolehan maulid ini bagi mereka yang menghadirinya atau mengadakanya, dengan memastikan beberapa hal berikut:

  • Pengajian atau peringatan tersebut (yang tidak ada kemungkaran di dalamnya) bukan karena peringatan tersebut merupkan ibadah, tapi sekedar memanfaatkan momen untuk mewujudkan maslahat syar’i dari perbuatan tersebut.
  • Hari maulid tahunan tersebut tidak memiliki kekhususan dan keutamaan yg tsabit/paten (menurut syariat).
  • Hendaknya menjelaskan kemungkaran yang dipastikan kebatilannya, baik ucapan, perbuatan dan keyakinan yang sering terdapat pada peringatan maulid. Continue reading »
Share
Dec 252012
 

Alif:       Hai, David! Bagaimana perayaan Natalmu?
David:  Lancar. Emm, kamu tidak mengucapkan Slamat Hari Natal padaku?
Alif:      Tidak.
David:  Kenapa?
Alif:       Karena itu dilarang dalam keyakinanku.
David:  Mengapa? Tapi kok orang lain yang juga muslim mengucapkan selamat natal padaku. Toh itu cuma sekedar kata-kata.
Alif:       Mungkin mereka belum tahu.
Oh ya. Apakah kamu mau mengucapkan kalimat syahadat sepertiku?
David:  Tentu saja tidak.
Alif:       Kenapa? Toh itu sekedar kata-kata.
David:  Karena itu akan merusak keyakinanku.
Hmm, sekarang aku mengerti.

See?, toleransi ga harus ikut merayakan apa yang dirayakan orang lain, dan tidak ada yang tersakiti. Bagi saya toleransi itu cukup dengan tidak meributkan segala tetek bengek aksesoris natal yang dipajang di mana-mana padahal saya tidak ikut merayakannya.

Saya juga tidak berharap mendapatkan selamat Idul Fitri dan Idul Adha dari teman-teman yang beragama lain. Cukup bagiku agamaku dan bagimu agamamu.

Share
Dec 212012
 

Sekelompok orang di bumi ini meyakini bahwa hari ini adalah akhir dunia, alias kiamat. Keyakinan itu dipicu oleh kesalahtafsiran terhadap kalender Suku Maya dan dibumbui beberapa rumor terkait fenomena alam. Bagaimana reaksi mereka saat tahu bahwa kiamat itu batal? Tidak ada media yang memberitakannya, karena berita seperti itu takkan laku, beda dengan berita geger kiamat itu sendiri.

Konon, berita tentang kiamat 21.12.2012 ini dimulai dengan adanya penafsiran yang salah terhadap kalender Suku Maya, sebuah suku kuno di Amerika Tengah. Kalender mereka berakhir di tanggal 21 Desember 2012 ini. Jadi apa yang istimewa? Ya TIDAK ADA, kalender saya juga akan berakhir tanggal 31 Desember 2012 nanti, apakah ini juga akan jadi akhir dunia? akhir tahun 2012 yang pasti. Ini membuat saya teringat pada Millenium Bug tahun 2000 lalu, dimana banyak orang khawatir komputer mengalami kekacauan pada pergantian dari 31.12.99 ke 01.01.00. Kalender adalah siklus, dimana setelah berakhir satu siklus maka siklus baru akan dimulai.

Ada lagi yang menghubungkan kiamat dengan berbagai fenomena yang nyata maupun yang hanya isapan jempol belaka, diantaranya:

1. Badai Matahari akan membunuh kita semua

Orang-orang yang meyakini kiamat suku Maya mulai mengada-ada tentang fakta bahwa matahari sedang memasuki fase aktivitas maksimum. Matahari berputar melalui periode tenang dan kegiatan yang memuncak kira-kira setiap 11 tahun — periode aktif ditandai dengan peningkatan badai matahari dan lidah api.

Beberapa lidah api memang bisa memengaruhi Bumi. Ketika matahari melepaskan partikel elektromagnetik sedemikian rupa, hal tersebut dapat berinteraksi dengan atmosfer kita. Badai matahari dapat mengganggu telekomunikasi, meskipun itu sebenarnya dapat dihindari. Partikel-partikel tersebut juga bisa menyebabkan fenomena aurora, cahaya yang ada di belahan Bumi utara dan selatan.

Prediksi badai matahari yang akan terjadi pada 21 Desember dan akan menghancurkan planet ini tidak didasarkan pada kenyataan, seperti yang dinyatakan para ilmuwan NASA. Puncak matahari ini adalah salah satu yang “paling lemah” dalam sejarah, ujar Lika Guhathakurta, ilmuwan NASA, yang berbicara dalam panel online mengenai kiamat suku Maya pada 28 November. Dengan kata lain, para peneliti tidak melihat alasan untuk memprediksi bahwa badai matahari mampu menghancurkan peradaban kita.

2. Kutub magnet Bumi akan terbalik

Apa hubungannya kiamat suku Maya dan elektromagnetisme? Rumor itu menyatakan, Kutub Utara dan Selatan akan tiba-tiba bertukar posisi pada 21 Desember.

Kenyataannya adalah bahwa kutub tidaklah benar-benar berpindah posisi seperti kedengarannya: terkadang medan magnet Bumi memang berubah posisi, namun hal itu tidak akan terjadi hanya dalam waktu satu hari. Kutub berubah dalam waktu ratusan ribu tahun, ungkap NASA. Perubahan dari kutub magnet dapat menyebabkan sedikit peningkatan radiasi kosmik, namun perubahan sebelumnya tidak mengganggu kehidupan di Bumi seperti yang terlihat dalam catatan fosil. Continue reading »

Share